Rabu, 26 Juni 2013

Keunggulan-keunggulan dan kekurangan-kekurangan sistem pembelajaran yang pernah kalian alami sejak dari SD s.d. SMA sederajat .



1.    SD
Sejak Dulu Sd teknologi masih sangat langka pada waktu itu alat telekomunikasi HP pun masih jarang masih menggunakan telepon umum.
Begitupula bahan pembelajarannya masih menggunakan cara manual tidak seperti sekarang ini guru menearangkan materi pembelajaran banyak yang sudah menggunakan projector. Sehingga bahan pembelajaranpun bisa di buat semenarik mungkin. Memang dulu kita sekolah masih serba manual tetapi disini kita bisa melihat bagaimana guru mengajar kepada muridnya dengan menggunakan teknik tersendiri, itu semua bisa menambah menarikisi pelajaran . misalnya si guru mengajak kita pergi ke luar kelas belajar tentang alam lalu kemudian mengajarnya dengan menggunakan alat-alat yang bisa digunakan yang sudah tersedia di lingkungan sekitar.
Untuk sekarang ini mungkin di beberapa sekolah dasar sudah mengajarkan tentang praktek komputer meskipun itu masih dasar-dasar.
Keunggulan Sistem pembelajaran: Guru lebih inovatif dan kreatif dalam penggunaan bahan pembelajaran tidak selamanya terpaku dengan kapur dan papan tulis blackboard saja.
Kekurangan: belum berkembangnya teknologi sehingga untuk bahan pembelajaran masih serba manual.
Saran: Guru ketika mengajar harus bisa kreatif dan inovatif dalam hal memberikan pembelajaran sehingga murid mengerti dan bisa mempelajari pelajaran yang ada dan diusahakan jangan membuat tegang muridnya.

2.       SMP
Sama halnya ketika sudah menginjak masa-masa SMP yang ini bedanya Cuma letaknya saja di perkotaan, dan seiring berjalannya waktu masyarakat bisa menikmati betapa canggihnya teknologi. Teknologi sudah mulai digunakan seperti menggunakan media pembelajaran dengan menggunakan projector dan dengan diterapkannya mata pelajaran Teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Sehingga kita bisa mengenal apa itu komputer dan aplikasi di dalamnya.
Keunggulan: teknologi untuk bahan pembelajaran sudah ada sehingga lebih otomatis ketika guru sedang mengajar.
Kekurangan: masih kurang dalam penggunaannya, masih belum bisa maksimal dalam memanfaatkan teknologi yang ada.
Saran: manfaatkanlah dan pelajari teknologi yang sudah ada supaya bisa mampu memberikan ilmunya kepada muridnya dengan maksimal.







3.       SMA
Ketika SMA semakin bertambahnya teknologi yang baru membuat bahan untuk pembelajaran bisa dibuat semenarik mungkin didukung dengan bahan-bahan yang telah disediakan lengkap di sekolah. Contohnya di jurusan IPA mata pelajaran tidak selamanya menggunakan teori yang menumpuk melainkan kita bisa mencoba mempraktekkannya di Laboratorium IPA seperti Lab. Kimia, Lab. Fisika, dan Lab. Biologi maupun Lab. Komputer.
Sehingga murid-murid dapat bereksperiment langsung di lapangan, dan membuat pambelajaran tidak membosankan.
                Keunggulan: Teknologi sudah banyak dan berkembang.
Kekurangan: Guru kurang bisa memaksimalkan cara mengajar dengan teknologi yang ada sehingga ada sebagian murid yang belum faham dalam menggunakannya.
Saran: Lebih utamakan Pelajaran yang nyata untuk masa depan.

Senin, 03 Juni 2013

Mampukah Saya Bersaing di Dunia Kerja Esok dan Langkah – Langkah Strategis Apa saja Yang Saya Lakukan Untuk Berkompetisi Di Dunia Kerja Esok?




Pertanyaan seperti itu kerap muncul di kalangan lulusan mahasiswa yang telah mendapatkan  ijazah selama menempuh perkuliahan di perguruan tinggi.

Memang  di dunia kerja terkadang lebih kejam kehidupannya dari pada di perkuliahan, karena kita punya ambisi ingin mendapatkan posisi yang terbaik di jabatannya. Kalau di perkuliahan masih mudah mencari teman yang bisa saling membantu beda dengan dunia kerja teman dekat saja munkin saja bisa menjadi lawan kita yang harus di kalahkan. Tapi itu semua tergantung sikap kita menghadapi kenyataan yang terjadi di kehidupan ini yang seakan-akan kita ini hidup di hutan rimba, ada yang membunuh dan di bunuh. Seperti dalam kata  “Barang siapa yang bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya maka dia akan bisa bertahan hidup”.

Kehidupan dunia kerja di tiap daerah pastinya berbeda-beda, misalkan di daerah Jabotabek beda persaingannya dengan yang berada di wilayah daerah. Itu dikarenakan faktor social yang paling berpengaruh diantara perbedaannya.

Untuk menyikapi hal seperti ini kita untuk khususnya kalangan mahasiswa jangan Cuma mengandalkan ijazah saja atau gelar S1. Tentunya kita minimal punya keahlian sesuai yang kita jalani di jurusan masing-masing. Misalkan mahasiswa Teknik Sipil tentunya dia tahu bagaimana caranya membangun sebuah gedung atau bangunan yang baik itu seperti apa yang bisa memenuhi kebutuhan yang ada di masyarakat untuk jangka yang panjang. Begitupun jurusan lainnya, tetapi kita tidak harus terpaku pada jurusan yang kita jalani, kita juga harus mengetahui ilmu-ilmu yang lainnya yang berada di luar kehidupan kita yang sedang di jalani.

Kita kaum mahasiswa yang berpendidikan harus bisa membedakan kualiatas dari segi penampilan, sikap, maupun tuturkata kesopanan kita itu harus kita jaga supaya kita bisa mempunyai citra yang baik sebagai lulusan sarjana yang mempunyai karakter.

Lulusan sarjana biasanya mempunyai gengsi yang tinggi dalam hal melamar pekerjaan, karena tidak mungkin llulusan sarjana menjadi “tukang” dalam sebuah proyek misalkan, tentunya mempunyai keinginan untuk memiliki jabatan yang lebih tinggi. Tetapi itu semua bisa saja terjadi tergantung sikap kita menyikapi kenyataan di kehidupan ini. Kenyataanya banyak lulusan sarjana yang masih menganggur, itu dikarenakan biasanya memiliki gengsi yang tinggi karena semua orang pasti bisa bekerja atau berwirausaha meskipun itu orang yang memiliki cacat fisik.

Jadi, intinya kita sebagai mahasiswatentunya harus mempunyai banyak jaringan saudara atau teman yang nantinya bisa memudahkan kita untuk mencari pekerjaan. Jika ada waktu luang di kampus, pergunakanlah waktu itu manfaatkanlah sebaik-baiknya untuk mengikuti kegiatan organisasi di tingkat jurusan, fakultas, maupun di tingkat universitas. Dari sana akan kita dapatkan pengetahuan yang lebih untuk masa depan, karena Ilmu itu sangatlah luas adanya.

Salam Sukses !!!

Rabu, 10 April 2013

KONSTRUKSI RANGKA BATANG



Referensi dari E Book
Judul buku    : Statika bagian dari Mekanika Teknik
Penulis            : Sidhartas Kamarwan
Penerbit         : UIP, Jakarta
Tahun terbit  : 1980
KONSTRUKSI RANGKA BATANG
1.       Pengertian Rangka Batang
            Rangka batang merupakan suatu bagan terdiri dari sejumlah batangbatang yang disambung satu dengan yang lain pada kedua ujungnya sehingga membentuk satu kesatuan struktur yang kokoh. Bentuk rangka batang dapat bermacarn-macam sesuai dengan fungsi konstruksi, seperti konstruksi unfuk jembatan, kuda-kuda, derek, menara, dan sesuai pula dengan bahan yang digunakan seperti baja atau kayu.
          Contoh konstruksi rangka batang :
  
a.        Batang Tepi Atas, yaitu batang-batang 1,2,3,4, 5,6,
b.        Batang Tepi Bawah, yaitu batang-batang7,8,9, 10, 11.12..
c.        Batang Pengisi Diagonal, yang selanjutnya disebut batang Diagno'
nal, yaitl batang 14, 16,18, 20.
d.         Batang Pengisi Tegak, yang selanjutnya disebut batang TEGAK,
yaitu : batang 13, 15, l'1,19 dan 21.
Dengan demikian untuk menghitung gaya batang dapat diselesaikan
dengan kombinasi dari caia di atas, yaitu :

a. Metoda analisa keseimbangan titik.
b. Metoda grafik keseiwbangan titik.
c. Metoda analisa keseimbangan bagian.
d. Metoda grafik keseimbangan bagian.

Berikut ini secara contoh singkat cara perhitungan keseimbangan titik :
            BANDINGKAN NILAI-NILAI GAYA BATANG YANG DIHITUNG DENGAN METODA





Gambar l.A.


Penyelesaian :

            PERIKSALAH KEKAKUAN KONSTRUKSI.
Cantumkin nama batang sambil menghitung jumlah batang dan sendi.
Jumlahbatang m = 9
Jumlahsendi s = 6
Jumlahreaksi r = 3
PERIKSALAH KESEMBANGAN LUAR
            Setelah dihitung diperoleh :
            VA = 4 ton.
             V" = 5 ton




METODA GRAFIK KESEIMBANGAN TITIK CREMONA




METODA KESEIMBANGAN BAGIAN (RITTER)











Rabu, 03 April 2013

Pengembangan sumberdaya manusia melalui sekolah menengah kejuruan, khususnya program keahlian rumpun bangunan


Pengembangan sumberdaya manusia melalui sekolah menengah kejuruan, khususnya program keahlian rumpun bangunan
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi sekolah ’kelas dua’ setelah SMA. Bahkan SMK-SMK rumpun Bangunan kerapkali diberi stigma sebagai sekolah pencetak tukang dan kuli. Padahal, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah salah satu komponen yang patut dikembangkan dalam pendidikan di Indonesia. Di era perdagangan bebas, tuntutan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) yang terampil di bidangnya mutlak diperlukan. Indonesia sebagai pemasok tenaga kerja yang cukup produktif di mata internasional, harus bersaing dengan negara lain yang sistem pendidikannya beberapa diantaranya lebih maju dari Indonesia sehingga mampu menghasilkan angkatan kerja yang mumpuni di bidangnya. Untuk memenuhinya, kesiapan kualitas SDM angkatan kerja harus makin ditingkatkan. Jalurnya perlu dipersiapkan melalui sistem pendidikan yang disesuaikan untuk mampu mengatasi kebutuhan sumber daya manusia yang siap kerja.

Sejak ekonomi Indonesia terpuruk pada tahun 1997, angka pengangguran tidak kunjung berkurang. Hal ini karena jumlah angkatan kerja yang lulus pada setiap tahunnya tidak bisa terserap habis di tahun tersebut. Untuk mengatasi permasalahan tersebut ada dua metode penyelesaian, yakni dengan meningkatkan kompetensi lulusan dan meningkatkan program pemberdayaan masyarakat.
Atas fenomena ini, diharapkan sistem pendidikan di Indonesia dapat dikembangkan untuk meningkatkan angka siap kerja dan mencegah bertambahnya pengangguran. Menjawab permasalahan ini, SMK menjadi salah satu jalan keluarnya dalam menyiapkan sumber daya manusia yang cukup potensial.
Berkenaan dengan hal di atas perkembangan terakhir jumlah sekolah menengah kejuruan di Indonesia, menurut Dr. Joko Sutrisno, Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur), sejak tahun 2007, Indonesia telah memiliki sekitar 6.600 SMK dengan jumlah siswa yang berkisar pada angka 2.750.000 orang. Artinya, jika dibandingkan dengan jumlah SMA dan jumlah siswanya, prosentasenya telah mencapai angka perbadingan 41% : 59%. Pihak pemerintah melalui Dikmenjur berniat menargetkan Indonesia mencapai angkaperbandingan hingga 70% : 30% untuk perkembangan SMK sampai tahun 2015 kelak. Oleh karenanya berbagai langkah pengembangan mutu layanan SMK pun harus dilakukan.





Pendanaan penyelenggaraan pendidikan merupakan tanggung jawab bersamaantara pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Tanggung jawab pemerintah memberikan dana penyelenggaraan pendidikan adalah merupakan tanggung jawab sosial yang diemban oleh negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai investasi sumber daya manusia jangka panjang.

Perwujudan tanggung jawab Negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikandinyatakan dalam pengalokasian dana pendidikan oleh Pemerintah (APBN) dan Pemerintah Daerah (APBD) sebesar 20% termasuk gaji tenaga pendidik. Komitmen Negara tersebut dituangkan dalamUndang-undang Republik Indonesia No mor 20 tahun 2003 tentang Undang undang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 46 dan Pasal 49 ayat (1), Perubahan UUD 1945 ke IV Pasal 31 ayat (4), dan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam sidang pengucapan putusan perkara No. 24/PUU-V/2007. Sedangkan tanggung jawab pendanaan pendidikan oleh masyarakat diwujudkan dalam bentuk partisipasi masyarakat secara kelembagaan mendirikan satuan pendidikan, peserta didik, dan orang tua atau wali peserta didik yang membiayai penyelenggaraan di tingkat satuan pendidikan. Menurut Gill (2008:184), bahwa rerata unit cost sekolah menengah kejuruan (SMK) 40% lebih tinggi dibandingkan dengan sekolah menengah umum. Sementara itu, berdasarkan data rerata biaya operasional non-personalia antara sekolah kejuruan (kelompok program studi keahlianrumpun bangunan) lebih besar 49.10% dibandingkan dengan sekolah menengah umum (Permendiknas No. 69; 2009).
Dari kedua pernyataan tersebut tampak bahwa pembiayaan penyelenggaraan pendidikan kejuruan memerlukan dana yang besar. Oleh karena itu, penggunaan dana pendidikan perlu direncanakan secara matang dan sistematis berdasarkan kegiatan pembelajaran sesuai dengan tuntutan pembentukan kompetensi siswa yang ideal dan berkualitas. Kajian pendanaan penyelenggaraanpendidikan di SMK, khususnya pada kelompok bidang keahlian rumpun bangunan perlu dilakukan untuk mencapai pendanaan yang efektif dan efisien.
Pengelola dan komite sekolah dalam merencanakan anggaran sekolah yang efektif dan efisien, dituntut memiliki kemampuan pengetahuan dalam mengidentifikasi komponen-komponen pembiayaan serta mampu memprediksi sumber-sumber pendanaan yang akan diperoleh sekolah. Namun demikian, penguasaan kedua kemampuan tersebut belum mencukupi sepenuhnya untuk dapat merencanakan anggaran sekolah yang efektif dan efisien,bilamana tidak didukung oleh adanya pemahaman pola pendanaan yang ada dalam sistem pengelolaan keuangan sekolah kejuruan.